skip to Main Content

Jemparingan, Tradisi Kuno Panahan Ala Mataram

Jemparingan

Image by @octoraditya

Jemparingan adalah seni memanah tradisional khas mataram. Jemparingan ini sarat akan filosofi yaitu “Pamenthaning Gendewa, Mujudake Pamenthenging Cipta” yang artinya jemparingan bukan sekedar olah raga namun juga seni dalam mengolah rasa di mana seorang pemanah dalam membidik harus melibatkan rasa sehingga dibutuhkan ketenangan saat memanah dalam olah raga ini. Awalnya jemparingan hanya dimainkan oleh anggota kerajaan dan orang yang hanya punya derajat sosial tinggi. Sepeninggal Paku Alam VII, jemparingan hampir punah dan tidak ada yang memainkan lagi akan tetapi akhir-akhir ini banyak perlombaan jemparingan dan seiring dengan hal tersebut peminat jemparingan semakin bertambah banyak.

Sponsored links
Jemparingan Budaya Mataram

Image by @genpijogja

Kegiatan panahan di Keraton Yogyakarta disebut dengan istilah Jemparingan gaya Mataraman. Asal usulnya dapat dilacak melalui kesatuan Prajurit Nyutra bersenjatakan panah yang sudah ada sejak jaman Mataram Islam. Bukan hanya sebagai sarana pertahanan, jemparingan berkaitan dengan menari dan olah rasa. Dalam Tari β€œSrikandhi Meguru Manah”, Raden Arjuna melingkarkan tangannya di luar tangan Srikandhi dengan posisi busur horizontal. Hal ini memberi acuan bagaimana Jemparingan gaya Mataram dilakukan sesuai dengan tata krama Jawa yang mengedepankan rasa. Yaitu dengan duduk bersila, posisi busur tertidur (horizontal), dan ditarik di depan dada dimana letak hati berada.

Jemparingan Kraton Yogyakarta

Image by @enaknunduk

Nyawiji, greget, sengguh, ora mingkuh adalah empat watak kesatria yang menjadi landasan kegiatan jemparingan. Nyawiji berarti berkonsentrasi, greget berarti semangat, sengguh berarti rasa percaya diri, dan ora mingkuh berarti bertanggung jawab. Sehubungan dengan tujuan pembentukan watak sawiji itulah maka jemparingan gaya Mataram tampak sangat berbeda dengan panahan lain. Pemanah jemparingan gaya Mataram tidak hanya memanah dalam kondisi bersila, tetapi juga tidak membidik dengan mata saja melainkan dengan hati (manah). Filosofi lain dalam jemparingan gaya Mataraman yaitu pamenthanging gandewa pamanthenging cipta. Bahwa membentangnya busur seiring dengan konsentrasi yang ditujukan pada sasaran yang dibidik. Dalam kehidupan sehari-hari, kalimat tersebut memiliki pesan agar manusia yang memiliki cita-cita, hendaknya berkonsentrasi penuh agar dapat mewujudkannya.

Persiapan Jemparingan

Image by @d.tiyang.jogja.potret

Ada tiga elemen pokok pada peralatan yang dipergunakan saat jemparingan yaitu anak panah atau jemparing itu sendiri, busur panah (gandewa), dan sasaran yang berupa bandul atau orang-orangan berbentuk silinder tegak sepanjang 30 cm berdiameter sekitar 3 cm. Anak panah terdiri dari tiga bagian yaitu deder (batang anak panah), bedor (mata panah), wulu (bulu pada pangkal panah), dan nyenyep (pangkal dari anak panah). Sedangkan Gandewa terdiri cengkolak (pegangan busur), lar (bilah di sisi kanan dan kiri cengkolak), dan kendheng (tali busur yang dikaitkan ke ujung lar). Pada saat berlangsung perlombaan jemparingan, pakaian yang dikenakan adalah layaknya Abdi Dalem. Untuk putera memakai baju peranakan, jarik wiron engkol, serta blangkon, sedangkan untuk putri mengenakan baju janggan warna hitam, jarik nyamping wiron, sanggul tekuk, tanpa asesoris. Warna biru dan hitam pada busana-busana ini melambangkan ketegasan, kesederhanaan, dan kedalaman.

Jemparingan Oleh Abdi Dalem

Image by @kratonjogja

Jemparingan gaya Mataraman dilakukan dengan duduk bersila, menyesuaikan tata krama Jawa yang mengedepankan rasa. Cara memanah dilakukan dengan jarak 35 meter dari area duduk bersila hingga sasaran yang diarah, busur ditarik di depan dada (hati) dengan posisi busur tidur (horizontal), busur dipegang tangan kiri serta tangan kanan menarik tali busur ( kendheng ), menggunakan jemparing dan gandhewa yang terbuat dari bahan tradisional (bambu bukan karbon/viber). Di dalam keraton, terdapat Paguyuban Gendhewa Mataram yang diperuntukkan bagi Abdi Dalem yang ingin berlatih jemparingan. Paguyuban ini memiliki jadwal latihan setiap Selasa sore di pelataran Kamandungan Kidul. Selain itu terdapat latihan yang bertepatan pada hari Selasa Wage memeringati Wiyosan Dalem HB Ka 10, Kamis Pon untuk memperingati Ha deging Nagari Dalem, serta Sabtu Pahing karena bertepatan dengan hari kelahiran Sultan HB I. Masyarakat umum yang tertarik mengkuti kegiatan jemparingan dapat bergabung dengan paguyuban-paguyuban yang ada di seputaran Yogyakarta.

sumber : @kratonjogja

Sponsored links
×Close search
Search

Send this to a friend