skip to Main Content

Mereka yang Menginspirasi : Mutiara Kuliner dari Yogyakarta

Menjadi sosok yang menginspirasi tidaklah harus terkenal dan memiliki banyak follower atau subscriber. Sosok-sosok berikut ini mungkin tidak kamu kenal, namun semangat dan dedikasinya patut kita contoh dan apresiasi. Mereka telah mendedikasikan hampir seumur hidupnya untuk dunia kuliner di Yogyakarta, mereka juga telah mengajarkan kepada kita bahwa usia bukanlah sebuah penghalang untuk terus berusaha dan juga keikhlasan mereka dalam bekerja patut kita contoh. Inilah mereka yang menginspirasi, Mutiara Kuliner dari Yogyakarta.

Burger Dinar

Burger Dinar

Image by @voilajogja

Mbah Wahadi namanya, seorang penjual burger kampung keliling yang sudah tidak muda lagi. Meskipun sudah berusia 76 tahun semangatnya untuk berdagang sangat luar biasa bahkan hingga begadang pada malam hari dengan mengayuh sepeda yang disebelahnya gerobak untuk menjajakan dagangannya sampai habis. Jarak yang ditempuh oleh beliau setiap harinya kurang lebih sekitar 80 Kilometer. Berangkat dari Pajimatan, Imogiri, Bantul di pagi hari, Mbah Wahadi mulai mengayuh gerobaknya menuju ke Jl. Kaliurang Kilometer 14, Sleman (yang kurang lebih berjarak 40 Kilometer), hanya untuk mengambil roti sebagai bahan dasar burger yang akan dijualnya.

Mbah Wahadi sendiri mulai berjualan setiap harinya pukul 12.00 WIB selepas mengambil roti dan makan siang. Beliau kembali mengayuh sepedanya menuju pusat Kota Yogyakarta dan berkeliling di kampung-kampung sekitar kampus Universitas Gajah Mada sampai dengan pukul 20:00 WIB. Biasanya jika dangan belum habis Mbah Wahadi bisa kita temui di sekitar Bank Mandiri UGM, Jl. Kaliurang Kilometer 3.8 atau sekitar Gama Plaza. Semangatnya dalam menjajakan dagangannya ternyata tidak pernah mengecewakan para pelanggannya, terbukti banyak yang menanti kehadiran Mbah Wahadi.

Para pelanggan Mbah Wahadi selalu memesan beef burger plus telur ceplok, memang menu yang satu ini adalah menu yang paling favorit di burger dinar. Untuk harga burger sendiri berkisar antara Rp. 7.000,- sampai Rp. 10.000,- dengan isian selada, tomat, timun dan potongan daging. Untuk rasa kita tidak bisa membandingkan dengan burger lain yang harganya jauh di atasnya, tapi semangat beliau dalam berjualan membuat beliau selalu ditunggu oleh para pelanggannya. Ini bukan soal rasa tetapi tentang bagaimana kita mengapresiasi semangat dan usaha seseorang yang luar bisa dan tak pernah kenal lelah dalam mencari nafkah.

Wedang Ronde Mbah Payem

Wedang Ronde Mbok Payem

Image by @debby_f_s

Apresiasi pantas kita berikan kepada seorang perempuan yang gigih berdiri dalam remangnya cahaya malam hanya untuk menghangatkan kota Yogyakrta dengan semangkuk salah satu wedang ronde terenak di kota Yogyakarta yang beliau sajikan melalui racikan jari jemarinya yang sudah tak muda lagi.

Mbah Payem, perempuan berusia 90 tahun yang konon kata beliau, “sudah berjualan ronde sejak jaman PKI” adalah sosok yang luar biasa dalam dunia kuliner di Yogyakarta. Semangatnya dalam berjualan ronde patut kita contoh, dengan semangat itulah beliau tak kenal lelah ataupun lemah dalam menjajakan wedang rondenya. Wajahnya selalu segar dan lihatlah senyum yang menghiasi wajahnya adalah senyuman yang mengajarkan bahwa segala sesuatu pasti bermanfaat jika kita tetap bahagia dan menjalaninya dengan penuh senyuman.

Jika kamu sedang berkunjung ke Yogyakarta, mampirlah ke Ronde Mbah Payem di Jl. Kauman, Yogyakarta (bisa cek di Google Maps untuk detail lokasi) yang mulai buka mulai jam 8 malam – habis hanya untuk sekedar memberikan apresiasi atas peran serta beliau memberikan warna untuk kuliner di Yogyakarta.

Es Jadul Mbah Jumiyo

Es Jadul Mbah Jumiyo

Image by @gembulfoodie

Usianya memang sudah tidak muda lagi, 91 Tahun. Namun, semangat Mbah Jumiyo untuk berjualan es jadul mengalahkan usianya. Setiap hari beliau dengan penuh semangat mengayuh sepedanya yang usang dan tua untuk menjajakan es buatannya. Dengan membawa sebuah keranjang kotak berwarna biru bertuliskan “ES JADUL”. Setiap harinya, Mbah Jumiyo menempuh 20an kilometer Berangkat dari rumahnya di Tegal Urung, Gilangharjo, Pandak Bantul, Jumiyo sehabis Asar baru berangkat untuk berjualan disekitar Alun-alun Kidul (Alkid) Yogyakarta.

Sudah berjualan sejak tahun 70an, beliau masih konsisten berjualan es jadul hingga sekarang. Es yang dijualnya memiliki berbagai macam rasa, mulai dari rasa buah-buahan sampai coklat. Setiap hari beliau membawa enam termos untuk membawa es jadul, satu termosnya berisi 30 es yang beliau buat sendiri. Untuk harganya sendiri cukup bersahabat, hanya Rp. 2.000,- sampai Rp. 2.500,- per potongnya. Es Jadul ini terbuat dari air, gula pasir, pati kanji, kelapa, dan beragam perasa makanan.

Meski tiap harinya harus pulang larut dan kembali mengayuh sekitar 20 kilometer menuju rumahnya, Mbah Jumiyo mengaku tak merasakan lelah. Jika kamu sedang berjalan-jalan di alun-alun kidul antara pukul 17.00 WIB – 21.00 WIB dan melihat Mbah Jumiyo yang sedang berjualan, jangan lupa untuk mampir membeli es yang dijualnya.

Lopis Mbah Satinem

Lopis Mbah Satinem

Image by @kulineran_yk

Mbah satinem adalah salah satu legenda kuliner Yogyakarta. Mbah Satinem yang lahir pada saat Jepang angkat kaki dari Indonesia sudah berjualan lopis sejak tahun 1963. Berjualan mulai pukul 06.00 WIB yang ditemani oleh anaknya yang bernama Mukinem, lopis simbah biasanya sudah habis terjual sebelum pukul 07.30. Banyaknya pelanggan yang datang menjadikan lopis Mbah Satinem satu-satunya lopis di Yogyakarta yang memakai nomer antrian.

Berangkat dari Salakan, Trihanggo, Sleman, Mbah Satinem mulai berangkat berjualan dari pukul 05.00 WIB diantar oleh anaknya Mukinem. Dulunya simbah sering berjalan kaki akan tetapi karena usia dan fisiknya yang semakin tua, anaknya lah yang setiap hari mengantarkan berjualan.

Lopis Mbah Satinem ini juga merupakan lopis langganan Mantan Presiden RI, Bapak Soeharto. Tidak hanya lopis saja, simbah juga menjual beberapa makanan lain seperti gatot dan cenil yang bisa kamu jadikan sarapan di pagi hari. Berlokasi di Jl. Diponegoro atau tepatnya di pertigaan pojokan timur Pesona Hotel Tugu, lopis mbah satinem tidak pernah sepi pembeli. Cukup dengan Rp. 5.000,- saja kamu sudah bisa menikmati gurih dan manisnya lopis Mbah Satinem ini. Dari berjualan lupis hingga gatot ini, Mbah Satinem bisa menanggung biaya hidup keluarga, termasuk ketiga anaknya, hingga saat ini semuanya sudah berkeluarga.

Bubur Mbah Waginah

Bubur Mbah Waginah

Image by @kulineran_yk

Berlokasi di Jl. Kabupaten KM. 15, Sleman, Yogyakarta atau tepatnya di depan Pawon Ndeso Resto Mas Bit, setiap pagi Mbah Waginah yang telah berusia 95 Tahun ini menjajakan bubur gudeg khas Yogyakarta untuk sarapan. Mbah Waginah sendiri telah berjualan gudeg sejak puluhan tahun lalu dan sampai sekarang masih setia melayani para pelanggannya yang datang silih berganti. Berjualan mulai pukul 06.00 WIB – 10.00 WIB, Mbah Waginah masih menyiapkan sendiri dagangannya karena suaminya telah meninggal dan anak-anaknya berada di luar kota.

Bubur gudeg yang beliau jual berkisar antara Rp. 7.000,- sampai dengan Rp. 15.000,- saja. Dengan kisaran harga tersebut kamu sudah bisa menikmati bubur, gudeg, krecek yang dilengkapi dengan kuah areh. Dulunya beliau juga menyediakan jajanan seperti kue lopis dan gorengan akan tetapi karena keterbatasan fisik yang sudah tidak sekuat dulu lagi, beliau hanya menjual bubur gudeg saja. Penasaran pengen mencobanya?

Es Tape Mbah Dirjo

Es Tape Mbah Dirjo

Image by @eatventure.inc

Mbah Dirjo sosok penjual es tape yang berusia kurang lebih 73 tahun ini telah berjualan sejak tahun 1972. Beliau tak pernah mengenal lelah dalam menjajakan es tape yang biasa beliau jual di sekitaran komplek kraton pakualaman (Di bawah pohon depan gerbang kraton pakualaman) atau di sekitar Jl. Kusumanegara. Setiap pembeli yang membeli es tape selalu diberi senyuman kecil sebagai ucapan terima kasih dan sebagai harapan mereka akan merasa senang dengan es tape yang telah mereka beli.

Untuk rasanya sendiri, es tape ini tidak terlalu manis atau asam. Rasa es tape ini sangat menyegarkan apalagi ketika diminum saat cuaca panas di siang hari. Harga es tape berikisar Rp. 3.000,- sampai Rp. 4.000,- jika kamu ingin tambah roti. Semangat dan Keikhlasan beliau dalam bekerja patut kita contoh, beliau tak pernah berharap lebih dari apa yang beliau lakukan, beliau sudah cukup senang apabila mereka senang dengan es tape yang beliau jual.

Gudeg Mbah Lindu

Gudeg Mbah Lindu

Image by @infojogja.co

Jika kamu mencari sarapan pagi di Kota Yogyakarta, cobalah ke Gudeg Mbah Lindu yang terletak di Jl. Sosrowijayan di antara Hotel Malioboro Inn dan Grage Ramayana. Simbah berjualan di pos ronda persis di depan malioboro minimarket. Gudeg Mbah Lindu adalah salah satu kuliner otentik Yogyakarta, bagaimana tidak aroma dan rasa di setiap suapannya memiliki cita rasa yg sangat istimewa. Gudeg ini tidak hanya menonjolkan rasa manisnya saja namun juga gurih, namun juga memiliki tekstur yang lembut. Kenikmatan gudeg ini berasal dari perpaduan krecek pedas (meskipun tidak begitu pedas dan tidak pahit), telur bacem (bacem meresap sampai ke dalam tapi tekstur telur tidak menjadi keras), kemudian suir ayam (tekstur daging ayam masih bisa dinikmati saat di gigit), dan nasi putih (Kematangan nasi cukup baik).

Gudeg yang mulai buka sekitar pukul 05:00 WIB dan tutup pukul 10:00 WIB ini juga menyediakan bubur. Bagi kamu yang kurang suka sarapan nasi di pagi hari, kamu bisa mencoba bubur gudeg khas Mbah Lindu ini. Cukup dengan Rp. 15.000,- sampai dengan Rp. 30.000,- saja kamu sudah bisa menikmati nasi/bubur gudeg lengkap dengan telor dan ayam suir. Oh, ya jika kamu ingin menikmati buburnya datanglah lebih awal sebelum pukul 07:00.

Ada satu hal lagi yang istimewa dari gudeg ini yaitu Mbah Lindu sang penjual gudeg, saat ini sudah berumur 97 tahun dan merupakan penjual gudeg tertua di Kota Yogyakarta. Meskipun sudah berumur hampir 1 abad, pendengaran dan kondisi fisik beliau masih terbilang sehat meskipun penglihatan Mbah Lindu sudah mulai berkurang. Mbah Lindu sudah berjualan gudeg sejak harga gudegnya seporsi masih 3 sen. Meskipun banyak orang bilang rasa gudegnya sangat istimewa, beliau tidak ingin membuka warung yg lebih besar lagi. Beliau tetap berkata dengan kesederhanaannya “sudah cukup berjualan seperti ini”. Anaknya pun pernah menyarankan kepada beliau untuk memakai piring rotan yg dilapisi kertas nasi bagi yang ingin makan di tempat, namun beliau menolak dan tetap ingin memakai pincuk dari daun pisang.

Untuk sekarang Mbah Lindu sudah tidak melayani pelanggan secara langsung dan telah digantikan oleh putri beliau dikarenakan fisiknya yang sudah tidak muda lagi (97 Tahun) tetapi dedikasi Mbah Lindu untuk dunia kuliner di Yogyakarta khususnya Gudeg akan terus menjadi kenangan indah bagi siapa saja yang pernah bertemu dengan beliau.

Punya rekomendasi kuliner yang harus kami datangi? Beritahu kami melalui Form Informasi Kuliner. Tempat kuliner yang kamu rekomendasikan akan kami buatkan schedule untuk kami datangi.

×Close search
Search

Send this to a friend